AKU LEBIH
MEMILIH UNTUK DIAM
Memang
benar adanya bahwa diam adalah emas. Ia ibaratkan sesuatu yang sangat berharga.
Memilih untuk diam dan bungkam atas semua pernyataan dan kritikan dari
orang-orang lain yang cenderung menyakitkan hati dan melukai pikiran adalah
cara terbaik untuk dilakukan. Apa artinya hidup ini jikalau kita hanya terlarut
dalam kesedihan, kesedihan karena masalah pribadi dan ditambah
kritikan-kritikan dari orang-orang lain?
Ah,
lebih baik aku menjauh. Aku memang bukan bermaksud untuk menjauhkan diri dari
lingkungan, namun aku justru menjauh dari orang-orang yang cenderung
menyakitkan hati ku. Aku diam bukan berarti aku marah, namun aku diam karena
aku berusaha untuk tidak terlalu mengambil pusing dari kritikan-kritikan
orang-orang lain terhadap ku. Bukan ku tidak menggunakan telinga ku untuk
mendengarkan mereka, namun aku ingin telinga ku diisi dengan lantunan
komentar-komentar yang indah, menyemangati dan memotivasi ku bukan yang justru
menjatuhkan ku.
Disini
aku bercerita tentang pengalaman diri ku sendiri. Jujur, aku pernah stress
dulu. Aku pernah merasa sangat minder dan merendahkan diri sendiri. Jujur, aku
dulu jauh dari lingkungan sosial, aku sering menjauhi diri dari teman-teman ku,
ketika aku SMA dulu. Aku merasa hanya memiliki sedikit teman, dan aku pernah menangis
sendirian di kamar lantai dua rumah ku setelah pulang sekolah pada siang hari. Aku
menangis karena kenapa aku tidak memiliki banyak teman? Kenapa aku terlalu
KuPer dan sangat pendiam? Aku seorang makhluk yang begitu intrapersonal atau
introvert, pikir ku.
Aku
merasa terlalu polos dan bodoh, mudah ditipu oleh teman-teman ku. Aku begitu
anak rumahan dan jarang keluar rumah. Aku merasa dikekang oleh kedua orang tua
ku; tidak boleh sering jalan bersama teman-teman, tugas ku hanya untuk di rumah
dan belajar di sekolah atau tempat-tempat les, kalau aku tidak bekerja aku
hampir selalu dikena marah oleh mereka, aku ingin sedikit kebebasan dalam diri
ku dengan berkumpul bersama mereka dan ingin merasakan bagaimana pertemanan
yang luas dan lebih banyak mengenal karakter-karakter orang, karena teman-teman
kelas ku sebagian besar adalah para anak gaul, ya, yang pergaulannya luas pergi
kemana-mana saja; ke kafe-kafe, hunting
foto, dan lain-lain, dan kedua orang tua ku hanya sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing. Aku merasa hidup ku tidak bebas, dan aku sering merasa
dikucilkan oleh orang banyak. Aku punya seorang ibu yang pemarah, aku punya
seorang ayah yang suka menambah panas suasana ketika aku dimarahi oleh ibu ku,
aku merasa tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun, karena aku hanya tinggal
dengan mereka berdua di rumah, kami bertiga orang saja di rumah. Semua ini
sangat, sangat membuat ku stress dan sedikit depresi. Gara-gara perlakuan ini
terhadap ku membuat aku diremehkan oleh banyak orang, tidak hanya oleh
teman-teman ku, namun ku oleh ayah dan ibu ku bahkan saudara-saudara ku. Aku pernah
sangat, sangat sedih dengan kondisi diri ku, aku merasa sangat tidak bahagia
dan justru aku lebih sering sedih dibandingkan bahagia. Bagi ku kesenangan itu
bukan tentang banyaknya uang orang tua atau kekayaan, namun kesenangan itu
adalah kebersamaan.
Jujur,
waktu kelas 3 SMA semester 1 kalau tidak salah, aku pernah stress dan terlalu
sedih dengan diri ku sendiri saat itu. Saat pulang sekolah, aku menangis
sendirian di rumah, kala itu kedua orang tua ku sedang bekerja, aku menangis
karena aku mendapat nilai 0 untuk suatu ulangan Kimia. Aku satu-satunya murid
di dalam kelas ku yang mendapat nilai 0. Betapa malu dan sedih hatinya aku
ketika ku melihat lembar jawaban ulangan harian Kimia ku tersebut. Pernah seorang
teman kelas ku, teman dekat ku juga di kelas itu, ia bertanya aku dapat nilai
berapa, dan aku jawab dengan sedih hati bahwa aku mendapat nilai 0, namun aku
menanyai dia balik, dan ia jawab bahwa ia dapat nilai di atas rata-rata, jauh
lebih bagus dari nilai ulangan harian ku itu. Dia tidak mengkritik ku, bahkan
dia pernah mengajakku untuk belajar Kimia bersama jika aku tidak paham terhadap
suatu materi pelajaran Kimia, karena dia jago dalam bidang itu. Hingga kini,
saat kuliah, dia telah mengambil jurusan Pendidikan Kimia di satu-satunya
universitas negeri di Kepulauan Riau, provinsi asal ku.
Aku
pun menyimpan nilai ulangan harian ku itu ke dalam tas sekolah ku dan
membawanya pulang dengan rasa duka cita. Sepanjang perjalanan pulang, perasaan
sedih karena nilai yang sangat, sangat buruk tersebut membuat ku dihantui
dengan rasa minder dan malu. Aku malu kenapa aku sangat bodoh dalam bidang
Kimia, namun aku lebih suka menjawab soal-soal Fisika dan Matematika
dibandingkan Kimia yang sulit untuk ku pahami. Banyak orang yang beranggapan
bahwa Kimia itu lebih mudah dibandingkan Fisika dan Matematika, namun aku
justru sebaliknya, aku lebih memilih Fisika dibandingkan Kimia, bahkan aku ‘memakan
banyak’ soal-soal Fisika dari buku-buku LKS ku, baik itu saat belajar di rumah
maupun saat hari-hari mendekati ujian Fisika.
Aku
dilahirkan dari kedua orang tua yang sama-sama pernah bersekolah di suatu SMK
Farmasi di kota Pekanbaru namun beda angkatan saja. Mereka sama-sama tamatan
dari sana, dan ayah ku melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi
negeri di Jakarta dengan mengambil jurusan Ilmu Politik. Kini ayah ku bekerja
di suatu kantor Dinas Sosial di salah satu daerah di Kabupaten Bintan, dekat
dengan Tanjungpinang, kota asal ku. Sedangkan ibu ku kini bekerja di sebuah
apotik cabang Kimia Farma di kota Tanjungpinang, beliau sudah bekerja di sana
ketika aku belum atau sudah lahir, tahun 1990-an dulu. Yang menjadi pertanyaan
ku adalah kenapa aku dilahirkan untuk tidak berbakat dalam bidang Kimia padahal
kedua orang tua sama-sama tamatan dari suatu sekolah Farmasi yang sama di
Pekanbaru? Ketika aku dewasa setelah tamat SMA, aku baru menyadarinya bahwa Allah
menciptakan setiap manusia dengan keistimewaan-keistimewaannya masing-masing.
Di
lain hal, aku pernah sedih berkepanjangan terhadap diri ku sendiri dan membenci
diri ku sendiri. Kenapa aku dijauhkan oleh banyak orang, diremehkan oleh banyak
orang dan dianggap bodoh dan polos oleh banyak orang? Kenapa dulu ketika aku
masih bersekolah sering di-bully oleh
banyak teman ku. Aku pernah bertanya pada diri ku sendiri, “Apa salah ku hingga
aku disikapi begini oleh mereka?”
Dulu
aku sering menangis karena dibuat menangis oleh teman-teman laki-laki maupun
perempuan ku yang jahat dengan kata-kata dan perbuatan mereka. Aku pernah
dilempari batu-batu kecil ketika SMP dulu saat kami semua sedang berkumpul di
lapangan sekolah tersebut di suatu hari. Mereka mengejek-ejek ku dan mem-bully ku dengan kata-kata yang melukai
perasaan ku. Sekali lagi, kebanyakan dari mereka adalah para anak gaul dan
bandel, yang hanya bisa mem-bully anak-anak yang culun di mata mereka, termasuk
aku.
Begitu
sakitnya kesenjangan sosial yang ada yang pernah ku rasakan ketika masih
bersekolah dulu. Mengintimidasi seseorang atau beberapa orang karena
alasan-alasan yang kurang logis, merendahkan orang-orang lain, hanya berteman
dengan kalangan-kalangan tertentu saja, membuat aku sering menangis dan
sedih sendiri ketika pulang sekolah,
terutama SMP. Aku pernah punya pikiran ketika kelas 1 SMP dulu untuk mengebom
sekolah itu karena aku pernah merasa sangat kesal dan kecewa dengan teman-teman
dan seorang guru di sana kala itu. Ah, pikiran ku terlalu konyol dan
kekanak-kanakan kala itu. Mana mungkin aku mengebom sekolah itu sedangkan aku
kala itu hanya seorang anak kecil yang baru tamat dari SD yang hanya depresi
dengan kondisi buruk perasaan ku saat itu. Dan satu hal yang pasti adalah tidak
mungkin seorang anak kecil mendapatkan sebuah bom untuk membakar gedung
sekolah. That’s too impossible, I think!
Ketika aku beranjak dewasa,
setelah tamat dari SMA, aku pindah tempat tinggal, di luar kota asal ku dan
memilih untuk tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Tujuan aku untuk tinggal
disini adalah untuk melanjutkan pendidikan ku ke sebuah perguruan tinggi. Sebelum
aku tinggal di sebuah tempat kos, aku tinggal bersama bibi dan paman kandung ku
dari keluar ibu ku, abang kandung dan adik perempuan ibu ku. Selama aku tinggal
di rumah-rumah mereka, aku telah mengalami dan mempelajari banyak hal. Aku dituntut
untuk lebih dewasa, lebih mandiri dan lebih cekatan dalam mengatasi segala
masalah yang dihadapi. Aku juga beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dulu,
pernah ibu ku memberikan aku nasihat bahwa aku harus bersikap ‘pandai-pandai’
saat tinggal di rumah orang.
Setelah
bertahun-tahun aku tinggal di kota ini, aku telah mendapati, mengalami dan
mempelajari lebih banyak hal. Aku lebih banyak mengenal orang beserta karakter-karakternya, aku telah lebih
pandai dalam berteman, mengenal orang lebih dalam dan mengenal banyak situasi
dan mengatasi rintangan yang ada dengan lebih baik, lebih matang dan lebih
dewasa.
Setelah
ku dewasa dan berkelana ke banyak tempat di SUMBAR ini, aku merasa jauh lebih
bebas, hidup ku lebih merdeka, lebih aktif, lebih produktif, lebih mandiri dan
lebih mengenal jati diri. Disisi lain, aku juga pernah terpuruk dengan banyak
kritikan pedas dan tajam oleh banyak orang. Akan tetapi, aku tidak sebodoh dan
sepolos itu, sepolos ‘Rosa yang dulu’, yang mudah saja orang-orang lain
merendahkan ku. Aku akan diam dan menginstopeksi diri dalam hati dan
melakukannya dalam bentuk perbuatan dibandingkan aku harus mengumbar-umbarnya
kepada khalayak ramai. Semakin aku dewasa, semakin lebih bahagia hidup ku ini,
semakin lebih berarti, berbuah manis, dan aku semakin mengenal jati diri ku. Aku
melakukan banyak pembenahan diri, tanpa orang-orang lain tahu, termasuk kedua
orang tua ku sendiri. Bagi ku, siapa diri ku itu cukup Allah saja yang tahu dan
menilainya, bisa jadi aku baik di mata orang lain, tetapi justru buruk di mata
Allah. Sebaliknya, bisa jadi aku buruk di mata orang lain, tetapi justru baik
di mata Allah. Allahualam. Apa saja yang telah aku lakukan, cukup Allah saja
yang tahu. Apa saja yang telah ku alami, cukup Allah saja yang tahu. Apa saja
isi hati ku, cukup Allah saja yang tahu. Apa saja kesalahan dan dosa ku, cukup
Allah saja yang tahu. Seberapa baik dan buruknya diri ku, cukup Allah yang
menilai. Seberapa besar dan banyak perjuangan, pengorbanan dan kebaikan yang
telah ku lakukan, cukup Allah yang mengetahuinya. Dan terakhir, setiap do’a
yang pernah ku utarakan pada Tuhan, cukup menjadi rahasia antara seorang hamba
dengan Tuhanya, Sang Pencipta.
Aku
pun tidak boleh terlalu menilai tinggi maupun menilai terlalu rendah pada
orang-orang lain, karena hidup orang adalah milik masing-masing orang. Jika aku
menilai, maka aku akan dinilai. Begitulah kira-kira menurut rumus logika
matematikanya. Jika mengkritik, maka aku akan dikritik. Aku lebih baik memilih
untuk diam, daripada banyak berkomentar. Biarlah orang-orang lain menilai buruk
dan mengkritik ku. Aku hanya bisa membenahi diri setiap harinya. Aku serap
kata-kata mereka jika itu berfaedah, jika tidak, aku akan buang jauh-jauh agar
tidak melukai pikiran ku.
Maka dari itu, aku lebih memilih untuk diam. Diam
itu emas. Diam itu bermanfaat. Mengurangi energi yang banyak keluar karena
marah, mengurangi pikiran untuk menilai buruk dan berburuk sangka pada
orang-orang lain dan lebih banyak merenungi diri sebagai cara untuk memperbaiki
diri karena hakikatnya manusia itu tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan itu
hanyalah milik Allah semata.
Sekian
curahan isi hati ku tentang pengalaman hidup yang pernah aku alami, semoga
pembaca bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang ada pada
ku maupun yang ada pada diri pembaca. Wassalam. Selamat siang.