Rabu, 20 Desember 2017

Aku Lebih Memilih untuk Diam



AKU LEBIH MEMILIH UNTUK DIAM

            Memang benar adanya bahwa diam adalah emas. Ia ibaratkan sesuatu yang sangat berharga. Memilih untuk diam dan bungkam atas semua pernyataan dan kritikan dari orang-orang lain yang cenderung menyakitkan hati dan melukai pikiran adalah cara terbaik untuk dilakukan. Apa artinya hidup ini jikalau kita hanya terlarut dalam kesedihan, kesedihan karena masalah pribadi dan ditambah kritikan-kritikan dari orang-orang lain?
            Ah, lebih baik aku menjauh. Aku memang bukan bermaksud untuk menjauhkan diri dari lingkungan, namun aku justru menjauh dari orang-orang yang cenderung menyakitkan hati ku. Aku diam bukan berarti aku marah, namun aku diam karena aku berusaha untuk tidak terlalu mengambil pusing dari kritikan-kritikan orang-orang lain terhadap ku. Bukan ku tidak menggunakan telinga ku untuk mendengarkan mereka, namun aku ingin telinga ku diisi dengan lantunan komentar-komentar yang indah, menyemangati dan memotivasi ku bukan yang justru menjatuhkan ku.
            Disini aku bercerita tentang pengalaman diri ku sendiri. Jujur, aku pernah stress dulu. Aku pernah merasa sangat minder dan merendahkan diri sendiri. Jujur, aku dulu jauh dari lingkungan sosial, aku sering menjauhi diri dari teman-teman ku, ketika aku SMA dulu. Aku merasa hanya memiliki sedikit teman, dan aku pernah menangis sendirian di kamar lantai dua rumah ku setelah pulang sekolah pada siang hari. Aku menangis karena kenapa aku tidak memiliki banyak teman? Kenapa aku terlalu KuPer dan sangat pendiam? Aku seorang makhluk yang begitu intrapersonal atau introvert, pikir ku.
            Aku merasa terlalu polos dan bodoh, mudah ditipu oleh teman-teman ku. Aku begitu anak rumahan dan jarang keluar rumah. Aku merasa dikekang oleh kedua orang tua ku; tidak boleh sering jalan bersama teman-teman, tugas ku hanya untuk di rumah dan belajar di sekolah atau tempat-tempat les, kalau aku tidak bekerja aku hampir selalu dikena marah oleh mereka, aku ingin sedikit kebebasan dalam diri ku dengan berkumpul bersama mereka dan ingin merasakan bagaimana pertemanan yang luas dan lebih banyak mengenal karakter-karakter orang, karena teman-teman kelas ku sebagian besar adalah para anak gaul, ya, yang pergaulannya luas pergi kemana-mana saja; ke kafe-kafe, hunting foto, dan lain-lain, dan kedua orang tua ku hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku merasa hidup ku tidak bebas, dan aku sering merasa dikucilkan oleh orang banyak. Aku punya seorang ibu yang pemarah, aku punya seorang ayah yang suka menambah panas suasana ketika aku dimarahi oleh ibu ku, aku merasa tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun, karena aku hanya tinggal dengan mereka berdua di rumah, kami bertiga orang saja di rumah. Semua ini sangat, sangat membuat ku stress dan sedikit depresi. Gara-gara perlakuan ini terhadap ku membuat aku diremehkan oleh banyak orang, tidak hanya oleh teman-teman ku, namun ku oleh ayah dan ibu ku bahkan saudara-saudara ku. Aku pernah sangat, sangat sedih dengan kondisi diri ku, aku merasa sangat tidak bahagia dan justru aku lebih sering sedih dibandingkan bahagia. Bagi ku kesenangan itu bukan tentang banyaknya uang orang tua atau kekayaan, namun kesenangan itu adalah kebersamaan.
            Jujur, waktu kelas 3 SMA semester 1 kalau tidak salah, aku pernah stress dan terlalu sedih dengan diri ku sendiri saat itu. Saat pulang sekolah, aku menangis sendirian di rumah, kala itu kedua orang tua ku sedang bekerja, aku menangis karena aku mendapat nilai 0 untuk suatu ulangan Kimia. Aku satu-satunya murid di dalam kelas ku yang mendapat nilai 0. Betapa malu dan sedih hatinya aku ketika ku melihat lembar jawaban ulangan harian Kimia ku tersebut. Pernah seorang teman kelas ku, teman dekat ku juga di kelas itu, ia bertanya aku dapat nilai berapa, dan aku jawab dengan sedih hati bahwa aku mendapat nilai 0, namun aku menanyai dia balik, dan ia jawab bahwa ia dapat nilai di atas rata-rata, jauh lebih bagus dari nilai ulangan harian ku itu. Dia tidak mengkritik ku, bahkan dia pernah mengajakku untuk belajar Kimia bersama jika aku tidak paham terhadap suatu materi pelajaran Kimia, karena dia jago dalam bidang itu. Hingga kini, saat kuliah, dia telah mengambil jurusan Pendidikan Kimia di satu-satunya universitas negeri di Kepulauan Riau, provinsi asal ku.
            Aku pun menyimpan nilai ulangan harian ku itu ke dalam tas sekolah ku dan membawanya pulang dengan rasa duka cita. Sepanjang perjalanan pulang, perasaan sedih karena nilai yang sangat, sangat buruk tersebut membuat ku dihantui dengan rasa minder dan malu. Aku malu kenapa aku sangat bodoh dalam bidang Kimia, namun aku lebih suka menjawab soal-soal Fisika dan Matematika dibandingkan Kimia yang sulit untuk ku pahami. Banyak orang yang beranggapan bahwa Kimia itu lebih mudah dibandingkan Fisika dan Matematika, namun aku justru sebaliknya, aku lebih memilih Fisika dibandingkan Kimia, bahkan aku ‘memakan banyak’ soal-soal Fisika dari buku-buku LKS ku, baik itu saat belajar di rumah maupun saat hari-hari mendekati ujian Fisika.
            Aku dilahirkan dari kedua orang tua yang sama-sama pernah bersekolah di suatu SMK Farmasi di kota Pekanbaru namun beda angkatan saja. Mereka sama-sama tamatan dari sana, dan ayah ku melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta dengan mengambil jurusan Ilmu Politik. Kini ayah ku bekerja di suatu kantor Dinas Sosial di salah satu daerah di Kabupaten Bintan, dekat dengan Tanjungpinang, kota asal ku. Sedangkan ibu ku kini bekerja di sebuah apotik cabang Kimia Farma di kota Tanjungpinang, beliau sudah bekerja di sana ketika aku belum atau sudah lahir, tahun 1990-an dulu. Yang menjadi pertanyaan ku adalah kenapa aku dilahirkan untuk tidak berbakat dalam bidang Kimia padahal kedua orang tua sama-sama tamatan dari suatu sekolah Farmasi yang sama di Pekanbaru? Ketika aku dewasa setelah tamat SMA, aku baru menyadarinya bahwa Allah menciptakan setiap manusia dengan keistimewaan-keistimewaannya masing-masing.
            Di lain hal, aku pernah sedih berkepanjangan terhadap diri ku sendiri dan membenci diri ku sendiri. Kenapa aku dijauhkan oleh banyak orang, diremehkan oleh banyak orang dan dianggap bodoh dan polos oleh banyak orang? Kenapa dulu ketika aku masih bersekolah sering di-bully oleh banyak teman ku. Aku pernah bertanya pada diri ku sendiri, “Apa salah ku hingga aku disikapi begini oleh mereka?”
            Dulu aku sering menangis karena dibuat menangis oleh teman-teman laki-laki maupun perempuan ku yang jahat dengan kata-kata dan perbuatan mereka. Aku pernah dilempari batu-batu kecil ketika SMP dulu saat kami semua sedang berkumpul di lapangan sekolah tersebut di suatu hari. Mereka mengejek-ejek ku dan mem-bully ku dengan kata-kata yang melukai perasaan ku. Sekali lagi, kebanyakan dari mereka adalah para anak gaul dan bandel, yang hanya bisa mem-bully anak-anak yang culun di mata mereka, termasuk aku.
            Begitu sakitnya kesenjangan sosial yang ada yang pernah ku rasakan ketika masih bersekolah dulu. Mengintimidasi seseorang atau beberapa orang karena alasan-alasan yang kurang logis, merendahkan orang-orang lain, hanya berteman dengan kalangan-kalangan tertentu saja, membuat aku sering menangis dan sedih  sendiri ketika pulang sekolah, terutama SMP. Aku pernah punya pikiran ketika kelas 1 SMP dulu untuk mengebom sekolah itu karena aku pernah merasa sangat kesal dan kecewa dengan teman-teman dan seorang guru di sana kala itu. Ah, pikiran ku terlalu konyol dan kekanak-kanakan kala itu. Mana mungkin aku mengebom sekolah itu sedangkan aku kala itu hanya seorang anak kecil yang baru tamat dari SD yang hanya depresi dengan kondisi buruk perasaan ku saat itu. Dan satu hal yang pasti adalah tidak mungkin seorang anak kecil mendapatkan sebuah bom untuk membakar gedung sekolah. That’s too impossible, I think!
            Ketika aku beranjak dewasa, setelah tamat dari SMA, aku pindah tempat tinggal, di luar kota asal ku dan memilih untuk tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Tujuan aku untuk tinggal disini adalah untuk melanjutkan pendidikan ku ke sebuah perguruan tinggi. Sebelum aku tinggal di sebuah tempat kos, aku tinggal bersama bibi dan paman kandung ku dari keluar ibu ku, abang kandung dan adik perempuan ibu ku. Selama aku tinggal di rumah-rumah mereka, aku telah mengalami dan mempelajari banyak hal. Aku dituntut untuk lebih dewasa, lebih mandiri dan lebih cekatan dalam mengatasi segala masalah yang dihadapi. Aku juga beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dulu, pernah ibu ku memberikan aku nasihat bahwa aku harus bersikap ‘pandai-pandai’ saat tinggal di rumah orang.
            Setelah bertahun-tahun aku tinggal di kota ini, aku telah mendapati, mengalami dan mempelajari lebih banyak hal. Aku lebih banyak mengenal orang  beserta karakter-karakternya, aku telah lebih pandai dalam berteman, mengenal orang lebih dalam dan mengenal banyak situasi dan mengatasi rintangan yang ada dengan lebih baik, lebih matang dan lebih dewasa.
            Setelah ku dewasa dan berkelana ke banyak tempat di SUMBAR ini, aku merasa jauh lebih bebas, hidup ku lebih merdeka, lebih aktif, lebih produktif, lebih mandiri dan lebih mengenal jati diri. Disisi lain, aku juga pernah terpuruk dengan banyak kritikan pedas dan tajam oleh banyak orang. Akan tetapi, aku tidak sebodoh dan sepolos itu, sepolos ‘Rosa yang dulu’, yang mudah saja orang-orang lain merendahkan ku. Aku akan diam dan menginstopeksi diri dalam hati dan melakukannya dalam bentuk perbuatan dibandingkan aku harus mengumbar-umbarnya kepada khalayak ramai. Semakin aku dewasa, semakin lebih bahagia hidup ku ini, semakin lebih berarti, berbuah manis, dan aku semakin mengenal jati diri ku. Aku melakukan banyak pembenahan diri, tanpa orang-orang lain tahu, termasuk kedua orang tua ku sendiri. Bagi ku, siapa diri ku itu cukup Allah saja yang tahu dan menilainya, bisa jadi aku baik di mata orang lain, tetapi justru buruk di mata Allah. Sebaliknya, bisa jadi aku buruk di mata orang lain, tetapi justru baik di mata Allah. Allahualam. Apa saja yang telah aku lakukan, cukup Allah saja yang tahu. Apa saja yang telah ku alami, cukup Allah saja yang tahu. Apa saja isi hati ku, cukup Allah saja yang tahu. Apa saja kesalahan dan dosa ku, cukup Allah saja yang tahu. Seberapa baik dan buruknya diri ku, cukup Allah yang menilai. Seberapa besar dan banyak perjuangan, pengorbanan dan kebaikan yang telah ku lakukan, cukup Allah yang mengetahuinya. Dan terakhir, setiap do’a yang pernah ku utarakan pada Tuhan, cukup menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhanya, Sang Pencipta. 
            Aku pun tidak boleh terlalu menilai tinggi maupun menilai terlalu rendah pada orang-orang lain, karena hidup orang adalah milik masing-masing orang. Jika aku menilai, maka aku akan dinilai. Begitulah kira-kira menurut rumus logika matematikanya. Jika mengkritik, maka aku akan dikritik. Aku lebih baik memilih untuk diam, daripada banyak berkomentar. Biarlah orang-orang lain menilai buruk dan mengkritik ku. Aku hanya bisa membenahi diri setiap harinya. Aku serap kata-kata mereka jika itu berfaedah, jika tidak, aku akan buang jauh-jauh agar tidak melukai pikiran ku.
Maka dari itu, aku lebih memilih untuk diam. Diam itu emas. Diam itu bermanfaat. Mengurangi energi yang banyak keluar karena marah, mengurangi pikiran untuk menilai buruk dan berburuk sangka pada orang-orang lain dan lebih banyak merenungi diri sebagai cara untuk memperbaiki diri karena hakikatnya manusia itu tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.
            Sekian curahan isi hati ku tentang pengalaman hidup yang pernah aku alami, semoga pembaca bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang ada pada ku maupun yang ada pada diri pembaca. Wassalam. Selamat siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Lebih Memilih untuk Diam

AKU LEBIH MEMILIH UNTUK DIAM             Memang benar adanya bahwa diam adalah emas. Ia ibaratkan sesuatu yang sangat berharga. Mem...